Banyak Kasus Gigitan ular, Peneliti Minta Pemerintah Serius Siapkan Serum Anti Bisa.


Beberapa waktu terakhir, teror ular kobra menghantui masyarakat di beberapa daerah.

Banyaknya kasus gigitan ular berbisa yang terjad di pemukiman warga menarik perhatian sejumlah kalangan.

Dengan banyaknya kondisi persinggungan atau interaksi antara ular dan manusia di pemukiman, pemerintah diminta untuk memperbanyak jumlah serum anti bisa yang sesuai dengan jenis ular yang ada di Indonesia.

Dilansir dari Kompas.com, peneliti di NK Research Universitas Brawijaya (UB) yang fokus terhadap herpetofauna, Ahmad Muammar Kadafi mengatakan, jumlah serum anti bisa yang dimiliki Indonesia masih sangat terbatas.

Hal itu berbanding terbalik dengan banyaknya jenis ular berbisa yang ada saat ini.

Disebutkan, dari literatur ada sekitar 77 jenis ular berbisa di Indonesia.

Meski secara umum ular itu hanya memiliki dua jenis bisa, yaitu neurotoksin dan hemotoksin. Namun, setiap ular berbisa memiliki karakter dan kadar bisa masing-masing.

Karena itu, serum anti bisa sebaiknya disesuaikan dengan jenis ular yang ada.

"Sekarang Indonesia kayaknya sudah pada posisi benar-benar wajib untuk melakukan beberapa hal terkait pembuatan anti venom," katanya. Hal serupa juga disampaikan Ketua Reptile Addict Malang (RAM), Hafid Andrian.

Menurutnya, pemerintah harus lebih serius dalam menyikapi bahaya bisa ular.

Pasalnya, saat memasuki musim penghujan ini kasus temuan ular berbisa cukup tinggi. Tak jarang masuk ke permukiman warga.

Sehingga untuk mengantisipasi lebih banyak korban dari gigitan ular berbisa, pemerintah didorong untuk menghadirkan serum anti bisa sesuai jenis ular yang ada.

Dengan adanya serum anti bisa itu, diharapkan pengobatan yang dilakukan menjadi lebih efektif.

"Jadi harus punya satu anti bisa untuk satu jenis ular. Misalnya weling, anti bisa khusus untuk weling," ujar dia.


Posting Komentar

0 Komentar