BPS Ungkap Banjir Jadi Penyumbang Inflasi Januari 2020.


Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda Indonesia sejak Rabu, 1 Januari 2020 menyebabkan terjadinya bencana banjir di beberapa wilayah.

Adapun wilayah yang terdampak banjir di antaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Provinsi Banten.

Berdasarkan data yang dihimpun Pikiran-Rakyat.com dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang dirilis pada Rabu, 1 Januari 2020 setidaknya terdapat 63 titik di Jakarta yang dilanda banjir.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah memberikan respon terkait bencana banjir yang melanda wilayahnya.

Begitu juga dengan wilayah Jawa Barat, wilayah Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang cukup parah dilanda bencana banjir.

Adapun daerah yang cukup parah dilanda banjir yaitu Bekasi dan sekitarnya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga telah memberikan respon terhadap bencana banjir yang melanda di wilayahnya.

Dengan menggunakan helikopter dari Bandara Husein Sastranegara, Ridwan Kamil bersama istrinya Atalia Kamil bertolak menuju Bekasi pada Kamis, 2 Januari lalu.

Saat melakukan kunjungan tersebut, Ridwan Kamil juga turut memberikan bantuan langsung terhadap Koran bencana banjir.

Badan Pusat Statistik menjelaskan banjir yang melanda di sejumlah wilayah akan memberikan pengaruh terhadap proyeksi inflasi pada Januari 2020.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan meskipun bencana banjir tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap pasokan dan distribusi, namun tetap ada pengaruhnya.

“Apabila selama banjir ini tidak berpengaruh kepada pasokan dan distribusi, besok akan pulih, itu pengaruhnya tidak akan besar, tapi pasti ada,” ujarnya seperti dikutip oleh Pikiran-Rakyat.com melalui situs Bursa Efek Indonesia.

Dalam keterangannya, Suhariyanto berkaca pada inflasi yang terjadi pada yahun 2019 yang berada dibawah 3 persen merupakan inflasi terendah.

“Inflasi pada 2019 yang berada di bawah 3 persen itu merupakan inflasi terendah, kalau kembali ke tahun-tahun berikutnya yang mendekati inflasi ini pada 2009 sebesar 2,78 persen, tahun 1999 itu sebesar 2,13 persen,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, banjir yang melanda Indonesia sejak 2 hari terakhir telah menyebabkan kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai Rp 10 triliun lebih.

Menurut Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira banjir pada tahun ini memiliki kerugian terbesar hingga mencapai Rp 10 triliun lebih dibandingkan yang pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2007 silam.

“Berbeda dengan 2007, kali ini banjir diperkirakan mencapai Rp 10 triliun lebih," ujarnya.

Dalam keterangannya, Bhima menambahkan adapun kerusakan yang diakibatkan oleh banjir meliputi beberapa sektor.

“Kerusakan utama di sektor perumahan, kerusakan lain juga seperti transportasi, fasilitas, aset milik pemerintah hingga infrastruktur,” jelas Bhima.

Produksi barang tidak berjalan dengan optimal, terutama di daerah industri yang terkena banjir seperti di Cakung, dan Pulo Gadung Jakarta.

Posting Komentar

0 Komentar